AYOSUROBOYO | Terdapat” Masjid di Kota Surabaya yang tampak bangunannya sederhana. Tidak bertingkat terlalu tinggi juga tidak penuh ornamen mahal dan tidak selalu terlihat megah di kamera.
Namun siapa sangka hampir tiap harinya di masjid ini menyediakan makan gratis, minum gratis, tempat menginap gratis, sabun gratis, shampo gratis, odol gratis bahkan bantal dan kasur bisa dipinjam gratis serta parkir pun ikut gratis.
Banyak orang bertanya,
“Masjid kok kayak tempat singgah?”
“Masjid kok kayak dapur umum?”
“Masjid kok kayak rumah singgah?”
Justru di situlah letak keberaniannya. Masjid ini mencoba mengingat kembali” bahwa masjid pertama dalam sejarah Islam bukan hanya tempat orang sujud akan tetapi tempat manusia bertahan hidup.
Di masjid ini orang lapar ditenangkan dulu perutnya. Orang lelah dipersilakan rebah. Orang kotor diberi kesempatan membersihkan diri. Orang asing diperlakukan seperti tamu, bukan tersangka.
Masjid ini berusaha paham satu hal sederhana” banyak orang datang ke masjid bukan karena imannya sedang kuat namun karena hidupnya sedang berat.
Ada yang datang membawa kantong kosong. Ada yang datang dengan badan bau perjalanan jauh. Ada yang datang hanya ingin numpang duduk dan merasa aman sebentar. Dan masjid ini memilih hadir di titik itu.
Bukan dengan ceramah panjang, tapi dengan sepiring makan. Bukan dengan tuntutan, tapi dengan air minum. Bukan dengan syarat tapi dengan penerimaan.
Gratis di sini bukan soal uang. Gratis adalah bahasa. Bahasa yang berkata:
“Engkau tidak perlu ngaku jadi siapa-siapa dulu untuk ditolong.”
Masjid ini percaya,
ketika kebutuhan alamiah manusia dijaga. Kolbu dan jiwanya lebih mudah disentuh.
Orang yang kenyang lebih mudah mendengar. Orang yang bersih lebih mudah tenang. Orang yang merasa aman lebih mudah percaya.
Dan mulai dari situlah perlahan-lahan ibadah ritual menemukan konteks jalannya sendiri.
Masjid Pemuda Indonesia ( Masjid Pmuda Ind ) yang ada di kota Surabaya ini masih belajar. Masih jauh dari sempurna. Masih sering keliru.
Namun kami ingin masjid ini
agar senantiasa lebih dulu menjadi tempat manusia merasa dimanusiakan yang mana sebelum menjadi tempat manusia dituntut untuk kesempurnaan.
Bangunannya sederhana. Pelayanannya berusaha istimewa. Karena kami percaya, kemegahan masjid bukan di temboknya, tapi di sejauh mana ia mampu meringankan hidup manusia yang datang kepadanya.
Semoga Alloh jadikan masjid-masjid kami rumah yang menenangkan,
bukan pintu yang men” cap lalu mengintimidasi. Amin.
#cakibramasjid
#masjidpemudaindonesia


